Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Swasembada Pangan: Antara Ambisi Politik dan Nasib Petani Indonesia

Swasembada Pangan: Antara Ambisi Politik dan Nasib Petani Indonesia

  • account_circle Ochin
  • calendar_month 10 menit yang lalu

Pemerintah mengklaim bahwa capaian swasembada pangan turut mendorong peningkatan kesejahteraan petani, misalnya tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) yang naik ke level tertinggi dalam beberapa dekade di tahun 2025. Data itu memang menunjukkan bahwa harga produksi petani relatif lebih baik dibandingkan biaya yang mereka keluarkan. Namun, angka agregat seperti NTP bisa menutupi ketimpangan yang nyata di lapangan.

Di banyak daerah, petani kecil tetap mengeluhkan harga gabah saat panen yang tidak stabil, biaya pupuk dan input yang mahal, serta ketergantungan pada tengkulak dan kredit informal yang berbunga tinggi. Banyak yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, dengan luas lahan sempit, akses terhadap teknologi modern terbatas, dan dukungan jaminan sosial yang minim. Ketika kebijakan swasembada fokus pada “target produksi tahunan”, program yang menyentuh petani kecil sering kali hanya bersifat parsial, sementara perubahan struktural seperti reforma agraria yang sungguh‑sungguh dan pembenahan rantai pemasaran masih berjalan lambat.

Di sini muncul ironi: negara boleh saja mengumumkan Indonesia “swasembada pangan”, tetapi di desa‑desa terpencil, petani boleh jadi hanya merasakan sedikit sekali dari euforia itu. Narasi politis swasembada bisa menjadi simbol kemenangan pemerintah, tetapi bagi petani, keberhasilan sebuah kebijakan seharusnya diukur dari kepastian harga, keamanan pangan keluarga, dan ketenangan hidup di tengah krisis cuaca dan harga.

Swasembada yang berkelanjutan, bukan hanya skor politik

Pertanyaan yang lebih penting sekarang bukan sekadar “apakah Indonesia sudah swasembada pangan?”, tetapi “swasembada seperti apa yang ingin kita bangun: swasembada yang mengandalkan tambahan subsidi, intensifikasi ekstensif, dan tekanan pada lahan; atau swasembada yang didasarkan pada keberlanjutan, keadilan, dan pemberdayaan petani?”

Beberapa kajian menunjukkan bahwa pendekatan terintegrasi yang menggabungkan kemajuan teknologi, peningkatan infrastruktur, dan dukungan langsung kepada petani kecil jauh lebih berpeluang menciptakan swasembada yang berkelanjutan. Program yang menjamin akses terhadap benih unggul, irigasi, pembiayaan murah, dan pasar yang adil, pada akhirnya akan mengurangi ketergantungan pada impuls politik jangka pendek dan memperkuat fondasi ekonomi pedesaan.

Dalam konteks ini, politik agribisnis seharusnya tidak hanya berhenti pada narasi kebanggaan nasional, tetapi diubah menjadi komitmen politik yang nyata: memposisikan petani sebagai mitra utama, bukan semata‑mata sebagai “penyedia bahan baku” bagi program pemerintah. Undang‑Undang Pangan dan berbagai instrumen kebijakan telah menyebut pentingnya keterlibatan masyarakat, kemitraan, dan cadangan pangan nasional, tetapi implementasinya masih tumpang‑tindih dan sering kali terdistorsi oleh kepentingan politik dan kebijakan sektoral.

Menata ulang politik agribisnis demi keadilan pangan

Untuk menjembatani antara ambisi swasembada dan nasib petani Indonesia, diperlukan beberapa perubahan mendasar. Pertama, kebijakan pangan harus lebih berorientasi pada keadilan rantai nilai: bukan hanya memastikan harga stabil bagi konsumen, tetapi juga menjamin harga yang layak bagi petani. Kedua, perlu pembenahan struktur lahan dan akses modal, sehingga petani kecil tidak terus terjebak dalam pola ketergantungan terhadap tengkulak dan kredit informal yang menjerat. Ketiga, politik agribisnis harus lebih inklusif: petani, kelompok tani, dan organisasi masyarakat sipil perlu dilibatkan lebih substantif dalam perencanaan kebijakan, bukan hanya sebagai objek kampanye atau penerima program. Keempat, keberlanjutan lingkungan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda swasembada, sehingga intensifikasi produksi tidak mengorbankan tanah, air, dan keanekaragaman hayati.

Dengan demikian, swasembada pangan tidak lagi hanya menjadi “proyek citra” kekuasaan, tetapi menjadi proyek kedaulatan rakyat: proyek yang menempatkan petani sebagai pelaku utama, bukan penderita akhir dari kebijakan yang terlalu berorientasi statistik dan retorika. Swasembada yang baik bukan hanya soal negara bisa menutup mulutnya sendiri, tetapi juga soal negeri ini bisa menjamin lapar petani tidak lagi jadi harga yang harus dibayar atas ambisi politik.(*)

REFERENSI

1. Kajian Strategi dan Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam Mencapai Target Swasembada Beras, Jurnal Fakultas Pertanian Wira Wacana, 2024.

  • Penulis: Ochin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nalar ‘Izin Tambang’: Ketika Hukum Positif Tunduk pada Kerusakan Ekologis di Bangka Belitung

    Nalar ‘Izin Tambang’: Ketika Hukum Positif Tunduk pada Kerusakan Ekologis di Bangka Belitung

    • calendar_month Rab, 26 Nov 2025
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mengatur kewajiban reklamasi dan pascatambang. Pasal 96 secara eksplisit mewajibkan pemegang izin untuk melakukan reklamasi dan pascatambang. Faktanya, ribuan kolong dibiarkan tanpa reklamasi. Kementerian ESDM sendiri mencatat ada ribuan lubang bekas tambang yang tak terkelola. Ini bukan sekadar kelalaian—ini adalah kejahatan ekologis terstruktur yang dilindungi […]

  • Peresmian Gedung Baru SMA Keluarga Universal Belitung, Gubernur Hidayat Dorong Sekolah Negeri dan Swasta Bersaing Sehat

    Peresmian Gedung Baru SMA Keluarga Universal Belitung, Gubernur Hidayat Dorong Sekolah Negeri dan Swasta Bersaing Sehat

    • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Hari ini istimewa, karena peresmian sekolah ini dihadiri langsung oleh Bupati Belitung dan Belitung Timur. Sinergi mereka sangat luar biasa,” ujarnya. Usai meninjau fasilitas sekolah, Gubernur Hidayat menyampaikan kesan positif terhadap sarana, pembinaan dan mutu pendidikan yang diterapkan di SMA Keluarga Universal Belitung. “Mulai dari pembinaan, murid, guru, hingga fasilitasnya, semuanya sangat baik. Saya bangga […]

  • Puslitbang Polri Gelar Penelitian di Polres Bangka Tengah, Kapolres : Hasilnya Jadi Masukan Konstruktif bagi Pembenahan dan Penguatan Internal

    Puslitbang Polri Gelar Penelitian di Polres Bangka Tengah, Kapolres : Hasilnya Jadi Masukan Konstruktif bagi Pembenahan dan Penguatan Internal

    • calendar_month Sel, 22 Apr 2025
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    Penelitian kali ini melibatkan dua Polres sekaligus, yakni Polres Bangka Tengah sebagai tuan rumah dan Polres Bangka Selatan sebagai peserta, dengan metode pengumpulan data melalui wawancara dan pengisian kuisioner yang difokuskan pada aspek sumber daya manusia, perilaku, kinerja, hingga kesejahteraan anggota Polri. Kapolres Bangka Tengah AKBP Dr. I Gede Nyoman Bratasena, S.I.K., M.I.K. dalam sambutannya […]

  • CSR dan Keadilan Sosial di Indonesia: “Jurang antara Norma Hukum dan Kondisi Lapangan”

    CSR dan Keadilan Sosial di Indonesia: “Jurang antara Norma Hukum dan Kondisi Lapangan”

    • calendar_month Sab, 3 Mei 2025
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    Didalam peraturan tersebut negara menegaskan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab sosial yang bukan hanya sebatas opsi melainkan menjadi kewajiban legal, terutama bagi perusahaan yang bergerak di bidang sumber daya alam. Di atas kertas, norma hukum ini tampaknya menguntungkan namun, praktik bisnis menunjukkan ada perbedaan antara hukum dan tindakan perusahaan. Ironisnya, banyak perusahaan yang aktif menjalankan […]

  • PT Timah Dukung Pelestarian Adat Ritual Rebo Pusaka Tahunan Setana Jering di Bangka Barat

    PT Timah Dukung Pelestarian Adat Ritual Rebo Pusaka Tahunan Setana Jering di Bangka Barat

    • calendar_month Kam, 23 Okt 2025
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    Sardi menjelaskan bahwa bantuan dari PT Timah Tbk digunakan untuk menyelesaikan sejumlah kebutuhan kegiatan. Ia menambahkan, perhatian PT Timah Tbk terhadap adat istiadat bukan hal baru, melainkan telah berlangsung secara konsisten setiap tahun. “Kami sangat berterima kasih karena PT Timah tv tidak pernah bosan mendukung kegiatan kami. Beberapa tahun terakhir, perusahaan selalu hadir membantu pelaksanaan […]

  • Terkesan Tidak Transparan Hingga Nilai Perolehan dan Kelulusan Berbeda, PPPK Guru Kabupaten Serang Tuntut Kejelasan

    Terkesan Tidak Transparan Hingga Nilai Perolehan dan Kelulusan Berbeda, PPPK Guru Kabupaten Serang Tuntut Kejelasan

    • calendar_month Rab, 8 Jan 2025
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Kami sangat kecewa. Guru honorer murni (PGHM) se-Kabupaten Serang merasa diperlakukan tidak adil. Kami berencana mengajukan audiensi untuk meminta kejelasan dan kepastian,” tambahnya. Rosid juga mengancam akan melakukan aksi demonstrasi jika jalur legal tidak membuahkan hasil. “Jika audiensi tidak menghasilkan solusi, kami akan melakukan aksi besar-besaran di seluruh kecamatan di Kabupaten Serang,” tegasnya. Selain itu, […]

expand_less