Ketika Sawit Datang, Hutan Adat Mapur kian Menyempit
- account_circle Ochin
- calendar_month Ming, 15 Mar 2026

OLEH: ALFIKI ISTUMETIA UTAMI RISQILAH
Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
CDN.id, BABEL- Dalam beberapa dekade terakhir, perkebunan kelapa sawit berkembang sangat pesat di Indonesia. Sawit menjadi salah satu komoditas penting yang banyak digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, mulai dari makanan, kosmetik, hingga bahan bakar nabati.
Permintaan global yang terus meningkat membuat perluasan perkebunan sawit terjadi di banyak wilayah, termasuk di Sumatra dan Kalimantan. Namun di balik pertumbuhan industri tersebut, ada persoalan lingkungan yang tidak bisa diabaikan, terutama ketika ekspansi sawit dilakukan dengan membuka kawasan hutan.
Fenomena ini juga terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain dikenal sebagai daerah pertambangan timah, Bangka Belitung dalam beberapa tahun terakhir juga mengalami perubahan penggunaan lahan yang cukup signifikan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit.
Hutan yang sebelumnya menjadi penyangga ekosistem perlahan berubah menjadi kawasan perkebunan. Perubahan ini tidak hanya mengubah lanskap alam, tetapi juga mempengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.
Salah satu contoh yang dapat dilihat adalah di Desa Mapur, Kabupaten Bangka. Sejak sekitar tahun 2004, sebagian wilayah hutan di kawasan Karang Lintang mulai mengalami perubahan akibat aktivitas perkebunan kelapa sawit. Kawasan yang dulunya merupakan hutan alami kini sebagian telah berubah menjadi area perkebunan. Perubahan ini tentu membawa dampak yang cukup besar, baik bagi lingkungan maupun bagi masyarakat adat yang selama ini bergantung pada keberadaan hutan tersebut.
- Penulis: Ochin
