AI Boleh Cerdas, Jurnalisme Harus Tetap Waras
- account_circle Ochin
- calendar_month Sen, 13 Apr 2026

Kita semua tahu, PPRA secara tegas mengingatkan agar pemberitaan tidak menimbulkan dampak psikologis negatif bagi anak.
Di sinilah pentingnya peran manusia. Wartawan harus menyaring, menyunting, dan memastikan bahwa setiap informasi yang dihasilkan, termasuk dengan bantuan AI, harus, kudu, mesti dan tetap sesuai dengan kaidah jurnalistik dan pedoman khusus seperti PPRA.
Untuk apa?
Ya jelas untuk melindungi identitas anak, baik itu yang menjadi diduga, terduga atau korban tindak pidana, maupun yang diduga, terduga atau pelaku tindak pidana.
Hati-hati…
Ketergantungan berlebihan pada AI, juga berpotensi mengikis disiplin jurnalistik. Tak menutup kemungkinan, wartawan sangat bisa tergoda untuk mengutamakan kecepatan, sementara prinsip “lebih baik terlambat daripada salah” justru semakin relevan di era ini.
Perlu juga digarisbawahi, AI juga tidak memahami keberimbangan. Ia tidak bisa memastikan semua pihak mendapat ruang yang adil dalam pemberitaan. Ia juga tidak memiliki sensitivitas untuk menilai dampak sosial dari sebuah informasi yang dimunculkan.
Sampai di sini, sangat jelas ya…. bahwa peran wartawan sebagai gatekeeper tidak boleh tergantikan.
Algoritma mungkin mampu membaca tren, tetapi tidak memiliki kepekaan untuk menentukan mana yang penting bagi kepentingan khalayak dan mana yang sebaliknya.
Di titik ini, penting juga untuk kita sepakati, bahwa jurnalisme bukan sekadar produksi informasi, melainkan proses menjaga kebenaran.
AI memang dapat membantu mempercepat kerja, tetapi tidak bisa menggantikan proses berpikir, verifikasi dan pertimbangan etis.
Ingat….
Wartawan tetap harus menjadi subjek, bukan objek dari teknologi.
Pada akhirnya, khalayak tidak hanya membutuhkan informasi yang cepat, tetapi juga yang benar dan dapat dipercaya.
Jurnalisme harus tetap waras, berpijak pada fakta, tunduk pada etika, dan berpihak pada kepentingan khalayak.
Akhirul kalam, mari sekali lagi kita bersepakat, bahwa tanggung jawab terkait kecanggihan sebuah teknologi, tetap berada di tangan manusia, bukan mesin. Dan secanggih-canggihnya AI, ia tetap butuh sentuhan manusia. (*)
- Penulis: Ochin
