Ketika Ladang Ditinggal: Darurat Regenerasi Petani Muda Indonesia
- account_circle Ochin
- calendar_month 2 jam yang lalu

OLEH : MANDA
Mahasiswi Prodi Agribisnis FPPK Universitas Bangka Belitung
CDN.id, BABEL- Ketika kita membayangkan sebuah desa di pedalaman Indonesia, pikiran kita sering kali tertuju pada hamparan ladang pertanian yang hijau, tanaman yang mulai menguning saat musim panen tiba, serta udara pagi yang basah oleh embun. Namun, di balik keindahan tersebut, terdapat realitas yang seharusnya kita cermati.
Banyak lahan pertanian saat ini dikelola oleh petani yang sudah lanjut usia, sedangkan generasi muda memilih untuk merantau ke kota atau mencari pekerjaan di sektor lain yang dianggap lebih menjanjikan. Situasi ini bukan hanya terbatas pada satu desa saja, melainkan juga terjadi di berbagai wilayah di seluruh Indonesia.
Kondisi ini menggambarkan betapa seriusnya masalah regenerasi petani yang dihadapi Indonesia. Jika semakin sedikit anak muda yang berminat untuk menjadi petani, lalu siapakah yang akan mengelola lahan pertanian di masa depan? Padahal sektor pertanian memiliki peran krusial dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Ancaman ini memang tidak terlihat secara langsung seperti bencana alam, tetapi dampaknya bisa sangat signifikan. Apabila dibiarkan terus berlanjut, krisis regenerasi petani dapat menjadi sebuah tantangan besar bagi ketahanan pangan Indonesia di masa yang akan datang.
Angka yang Tidak Bisa Kita Abaikan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dari Sensus Pertanian tahun 2023 mencatat sebuah fakta yang perlu kita renungkan bahwa petani Indonesia semakin tua, sementara yang muda semakin sedikit yang mau turun ke ladang pertanian. Bayangkan, hampir 40 persen dari para petani kita saat ini adalah orang-orang yang berusia lebih dari 55 tahun. Ditambah dengan kelompok yang berusia antara 41 hingga 55 tahun yang mencapai 38 persen, hal ini menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat petani di Indonesia berada pada fase akhir usia atau sudah mendekati fase tersebut.
Sementara itu, jumlah petani muda justru mengalami penurunan. Mereka yang berumur di bawah 34 tahun kini hanya terdiri dari 11,5 persen mengalami penurunan dari 12,8 persen satu dekade lalu. Terutama dalam kelompok usia 25 hingga 34 tahun, angka tersebut menurun dari mendekati 12 persen pada tahun 2013 menjadi hanya sekitar 10 persen pada tahun 2023. Maka dari itu, rata-rata usia petani di Indonesia saat ini sudah mencapai 55 tahun.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan merupakan sebuah tanda peringatan bagi kita. Apabila tidak ada perubahan nyata dalam dua hingga tiga dekade ke depan, kita bisa menghadapi kekurangan petani yang mengkhawatirkan. Masalahnya bukan lahan yang menyempit, melainkan semakin sedikitnya orang yang mau dan siap menggarapnya.
Kenapa Anak Muda Tidak Mau Bertani?
Stigma sosial masih menjadi penghalang besar bagi generasi muda desa untuk terjun ke dunia pertanian. Banyak dari pemuda desa menganggap bahwa menjadi petani seolah menandakan pendidikan yang tidak berhasil. Pandangan ini tidak lahir begitu saja, tetapi terbentuk dari lingkungan keluarga, masyarakat, hingga sistem pendidikan yang sejak lama memisahkan dunia akademik dengan dunia pertanian. Ironisnya, bahkan orang tua yang berprofesi sebagai petani sering kali tidak ingin anaknya mengikuti jejak yang sama, karena berharap pendidikan formal bisa membuka jalan menuju pekerjaan yang dianggap lebih menjanjikan.
Faktor kedua, persoalan infrastruktur dan teknologi juga tidak bisa diabaikan. Banyak daerah pedesaan pertanian masih dijalankan dengan cara-cara konvensional yang mengandalkan tenaga besar namun hasilnya belum tentu stabil. Misalnya hasil pertanian yang tidak menentu, akses pasar masih terbatas, teknologi modern sulit dijangkau karena harga mahal dan pelatihannya masih jarang diberikan.
Situasi ini membuat pertanian terlihat kurang menarik bagi generasi muda yang tumbuh di era digital. Mereka cenderung melihat pertanian sebagai pekerjaan yang berat, tetapi tidak sebanding dengan penghasilannya. Padahal, teknologi pertanian modern sebenarnya sudah tersedia, hanya saja aksesnya masih terbatas karena biaya yang tinggi dan minimnya pelatihan di tingkat desa.
Adapun faktor ketiga, adanya alternatif pekerjaan di perkotaan yang dianggap lebih menjanjikan oleh pemuda desa turut memperkuat fenomena ini. Kota menawarkan pekerjaan dengan penghasilan tetap yang jauh lebih stabil dibandingkan hasil tani pedesaan yang berfluktuasi mengikuti musim dan harga pasar.
Menariknya, sebagian pemuda desa sebenarnya tidak sepenuhnya meninggalkan dunia pertanian, tetapi memilih menjadi tenaga kerja pertanian di luar negeri seperti Malaysia atau Korea Selatan karena upah yang jauh lebih tinggi dan sistem kerja lebih terorganisir (Malik et al., 2024). Hal ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada minat terhadap pertanian itu sendiri, melainkan pada kondisi di dalam negeri yang belum mampu membuat sektor ini cukup menarik bagi generasi muda.
Regenerasi Petani yang Terhambat oleh Sistem
Isu regenerasi petani tidak bisa dilepaskan dari dua masalah mendasar yang saling berkaitan, yaitu lemahnya sistem pendidikan di sektor pertanian dan belum maksimalnya respons kebijakan pemerintah. Keduanya memiliki peran penting dalam membangun persepsi dan pilihan generasi muda terhadap sektor pertanian hingga saat ini.
- Penulis: Ochin
