Hilirisasi Pertanian sebagai Jalan Menuju Indonesia Emas 2045
- account_circle Ochin
- calendar_month 23 menit yang lalu

OLEH : HUMAIRA YASMIN
Mahasiswi Program Studi Agribisnis FPPK Universitas Bangka Belitung
CDN.id, BABEL- Indonesia adalah negara agraris yang kaya akan sumber daya alam dan luas lahan untuk pertanian, dengan berbagai komoditas seperti padi, jagung, cabai, kelapa sawit, kakao, dan singkong. Namun, kesejahteraan para petani masih memprihatinkan.
Meski bekerja keras, pendapatan petani seringkali tidak cukup untuk hidup layak. Mereka menjual hasil panen dengan harga murah, sementara produk yang sama dijual lebih mahal setelah diolah. Misalnya, cabai yang dibeli dengan harga rendah bisa melambung tinggi di pasar. Sebagian besar keuntungan dari pengolahan tidak sampai ke petani. Masalah utama di sektor pertanian bukan hanya volume produksi, tetapi rendahnya nilai tambah hasil pertanian. Penguatan sektor hilir pertanian diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mencapai tujuan Indonesia Emas 2045.
Hilirisasi pertanian adalah langkah utama dalam mengembangkan bidang pertanian untuk menguatkan ambisi Indonesia Emas 2045,yang awalnya hanya sekedar memproduksi bahan mentah menjadi mengolah barang yang memiliki nilai tambah yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi. Dalam langkah ini, hasil pertanian tidak dijual langsung, melainkan diproses menjadi produk setengah jadi atau produk jadi yang lebih berharga di pasar.
Misalnya, singkong dapat diolah menjadi tepung mocaf, keripik modern, atau bahan baku untuk industri makanan. Jagung tidak hanya dipasarkan sebagai hasil panen biasa, tetapi juga bisa diolah menjadi pakan ternak, tepung jagung, atau bioetanol. Kakao dapat diubah menjadi cokelat olahan yang berkualitas ekspor, sementara rumput laut bisa dimanfaatkan untuk produk kosmetik dan farmasi. Proses pengolahan ini mampu meningkatkan nilai jual produk beberapa kali lipat dibandingkan menjualnya dalam bentuk mentah.
Pengembangan sektor pertanian secara mendalam sangatlah penting guna menciptakan jejaring ekonomi yang lebih luas di dalam negeri. Selama ini, sektor pengolahan luar negeri justru yang lebih banyak meraup untung besar. Namun, melalui pengembangan ini, laba yang tadinya ke luar negeri bisa dikelola di dalam negeri dan langsung dinikmati oleh masyarakat.
- Penulis: Ochin
