Saat Purnama Menyapa, Gunung Padang Kembali Menyimpan Tanda
- account_circle Ochin
- calendar_month Sel, 30 Jun 2026

“Bagi saya, dupa bukan untuk menyembah tempat ini. Ia hanya menjadi pengingat agar manusia hadir dengan hati yang bersih, penuh syukur, dan menghormati alam sebagai ciptaan Tuhan,” kata Cahaya Adi Wibowo.
Menjelang pukul 01.00 WIB, seluruh peserta mengikuti meditasi dalam suasana hening yang didampingi Kepala Juru Pelihara Gunung Padang, Nanang Sukmana. Tak ada suara selain desir angin dan nyanyian alam yang menemani setiap orang larut dalam refleksinya masing-masing.
Bagi Wahyu, yang baru pertama kali mengunjungi Gunung Padang, pengalaman itu meninggalkan kesan mendalam. Bahkan sesaat setelah rombongan tiba kembali di area parkir, ia langsung mengutarakan keinginannya untuk datang lagi.
“Saya ingin kembali lagi ke Gunung Padang. Tempat ini membuat hati tenang. Nanti saya ingin mengajak keluarga atau teman-teman supaya mereka juga bisa merasakan suasana seperti malam ini,” ujarnya.
Bagi Dar Edi Yoga, Gunung Padang bukan sekadar situs purbakala yang menyimpan jejak sejarah, melainkan ruang untuk merenung, mempererat persaudaraan, dan menyadari bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta ciptaan Tuhan. Di bawah cahaya purnama, setiap langkah di antara bebatuan purba seolah mengajak siapa pun untuk pulang kepada keheningan, rasa syukur, dan kedamaian batin.(*)
- Penulis: Ochin
