“Perut Kenyang Hari Ini dibayar Tanah Berlubang Esok Hari: Ironi Reklamasi dan Nasib Anak-anak Penambang”
- account_circle Ochin
- calendar_month Sel, 2 Des 2025

Apakah lubang tambang itu ditutup, atau dibiarkan?
Apakah perusahaan ditegur, dikenai sanksi, dan dipaksa memulihkan?
Ataukah masyarakat kembali diminta “bersabar”?
Ketika negara gagal hadir secara tegas, anak-anak penambang kehilangan lebih dari sekadar lingkungan—mereka kehilangan rasa percaya pada hukum.
Bukan Sekadar Reklamasi, Ini Tentang Martabat
Reklamasi bukan soal teknis semata. Ini bukan sekadar menanam bibit di atas tanah rusak. Reklamasi adalah soal etika bernegara, tentang sejauh mana kita menghargai kehidupan generasi mendatang. Ia adalah ukuran tanggung jawab moral bangsa terhadap anak-anak yang hari ini masih duduk di bangku sekolah, tetapi esok harus hidup di atas warisan keputusan kita hari ini.
Jika lubang-lubang itu terus dibiarkan, maka yang diwariskan bukan hanya kerusakan ekologis, tetapi juga pesan yang pahit: bahwa hukum bisa dikalahkan oleh kepentingan, dan keadilan bisa ditunda tanpa rasa bersalah.
Dan mungkin, yang paling tragis adalah ini:
anak-anak penambang itu akan tumbuh dewasa, berdiri di tepi lubang yang sama, dan bertanya,
“Mengapa dulu tidak ada yang benar-benar peduli?”.(*)
- Penulis: Ochin
