Menggali ‘Harta Karun’ Selain Timah: Mendorong Potensi Ekonomi Kreatif dan UMKM Bangka Belitung
- account_circle Ochin
- calendar_month Rab, 5 Nov 2025

OLEH : BRENDA ANGLE MARETTA SIMAMORA
Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prodi Ilmu Politik UBB
CDN.id, BABEL- Sudah berapa lama kita mendengar janji manis tentang kemakmuran dari timah? Puluhan tahun. Hasilnya? Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung tahun 2024 cuma 0,77 persen—terendah se-Sumatera. Kolong-kolong bekas tambang berserakan, anak-anak tenggelam di lubang galian, sementara elit bisnis dan pejabat menikmati korupsi ratusan triliun rupiah. Ini bukan cerita dongeng, ini kenyataan pahit yang kita alami setiap hari.
Yang lebih menyakitkan lagi, kontribusi timah ke kas daerah rata-rata cuma Rp 7,7 triliun per tahun. Bandingkan dengan kerusakan lingkungan yang mencapai Rp 271 triliun. Artinya, kerugiannya 18 kali lipat lebih besar dari keuntungannya. Dan kita masih saja berharap pada timah yang cadangannya diprediksi habis dalam 25-30 tahun ke depan?
Sudah waktunya kita jujur pada diri sendiri: timah bukan masa depan. Timah adalah masa lalu yang terus menggerogoti.
Harta Karun yang Terabaikan
Ironisnya, sembari kita sibuk mengeruk perut bumi, kita melupakan kekayaan sesungguhnya yang ada di tangan sendiri. Ada lebih dari 189 ribu pelaku UMKM di provinsi ini—dari pengrajin anyaman pandan di Belitung hingga pembuat kerupuk kemplang di Bangka. Ada batik dengan motif lada dan sepiak yang tak dimiliki daerah lain. Ada lada putih Muntok yang terkenal sampai mancanegara. Ada kerajinan dari limbah timah yang justru dibuat oleh anak-anak muda kreatif.
Bica Ceramic Art bahkan sudah tembus ekspor ke Singapura. Tapi berapa banyak dari kita yang tahu? Berapa banyak dukungan yang mereka terima dibanding perusahaan tambang besar?
- Penulis: Ochin
