Membaca Tragedi Sumatera Dengan Kacamata ‘Green Criminology’
- account_circle Ochin
- calendar_month Sel, 23 Des 2025

Dari Penanganan ke Pencegahan
Selama bencana di Sumatera terus dipahami sebagai musibah alam semata, respons negara akan cenderung reaktif dalam bentuk bantuan darurat, relokasi, dan rekonstruksi. Green criminology justru mendorong pergeseran ke arah pencegahan struktural.
Pertama, integrasi analisis risiko ekologis secara ketat dalam seluruh kebijakan perizinan, terutama di wilayah hulu dan kawasan rawan bencana. Kedua, penegakan hukum lingkungan yang tegas terhadap korporasi, termasuk kewajiban pemulihan ekologis, bukan sekadar sanksi administratif. Ketiga, transparansi data konsesi dan dokumen AMDAL agar publik dan media dapat menjalankan fungsi kontrol. Keempat, pengakuan dan perlindungan peran masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai penjaga ekosistem, bukan sebagai hambatan pembangunan.
Melihat bencana Sumatera melalui kacamata green criminology membantu kita keluar dari narasi nasib dan takdir. Bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan cermin dari pilihan kebijakan dan relasi kuasa. Selama kerusakan ekologis terus dianggap sebagai harga yang wajar dari pembangunan, bencana akan berulang dan hampir selalu menimpa mereka yang paling lemah.(*)
- Penulis: Ochin
