Ketahanan Pangan dan Konflik Lahan di Papua
- account_circle Ochin
- calendar_month 4 jam yang lalu

OLEH : OKTOFIAN
Mahasiswa Fakultas Pertanian Perikanan dan Kelautan Universitas Bangka Belitung
CDN.id, BABEL- Pemerintah Indonesia beberapa tahun terakhir terus mendorong program food estate sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional. Secara konsep, tujuan program ini sebenarnya cukup baik karena negara memang membutuhkan cadangan pangan yang kuat untuk menghadapi ancaman krisis pangan global.
Pemerintah juga beranggapan bahwa pembukaan lahan pertanian skala besar dapat meningkatkan produksi beras dan mengurangi ketergantungan impor. Namun, ketika kebijakan tersebut diterapkan di lapangan, terutama di Papua, muncul persoalan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan produksi pangan.
Menurut Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dalam Laporan Akhir Tahun 2023, konflik agraria di Indonesia masih terus meningkat dan banyak melibatkan masyarakat adat yang kehilangan akses terhadap tanahnya. Konflik ini tidak hanya terjadi di Jawa atau Kalimantan, tetapi juga mulai meluas ke wilayah timur Indonesia, termasuk Papua. Dalam banyak kasus, masyarakat lokal merasa tidak benar-benar dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait penggunaan lahan mereka.
Hal inilah yang paling membuat saya tertarik ketika melihat konflik lahan di Papua. Masyarakat adat seolah hanya menjadi objek pembangunan tanpa memiliki ruang yang cukup untuk menentukan nasib wilayah mereka sendiri. Padahal, tanah bagi masyarakat Papua bukan hanya tempat tinggal atau sumber ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas dan kehidupan sosial mereka.
Ketika lahan diambil tanpa keterlibatan yang jelas, dampaknya bukan hanya kehilangan ruang hidup, tetapi juga hilangnya hubungan budaya yang selama ini mereka jaga.
Film dokumenter Pesta Babi menjadi salah satu gambaran yang cukup kuat mengenai persoalan tersebut. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Papua berusaha mempertahankan hak hidup mereka di tengah masuknya proyek besar yang mengatasnamakan pembangunan dan ketahanan pangan.
- Penulis: Ochin
