Pertanian Digital: Jalan Baru Menarik Minat Generasi Z
- account_circle Ochin
- calendar_month Sab, 23 Mei 2026

Sayangnya, potensi ini tidak akan berkembang sendiri tanpa ada dukungan dari kebijakan yang sesuai dan memadai. Disinilah letak persoalan struktural yang perlu dikritisi secara jujur. Pemerintah memang sudah meluncurkan berbagai program petani milenial dan mengklaim agenda digitalisasi pertanian sebagai prioritas.
Namun, pada kenyataannya di lapangan masih menyisakan banyak pekerjaan rumah, dimana koneksi internet di desa-desa sentra produksi pertanian belum merata, akses permodalan bagi pemula tanpa agunan masih terhambat birokrasi, dan pelatihan yang tersedia sering kali tidak relevan dengan kebutuhan nyata yang ada di lapangan.
Kebijakan pertanian nasional yang masih terlalu berorientasi pada angka produksi, mengejar target ton per hektar tanpa cukup memperhatikan ekosistem pelaku pertaniannya. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Rural Studies (2021), menunjukkan bahwa regenerasi petani muda tidak dapat hanya didorong dari sisi minat individu, namun harus didukung dengan kebijakan struktural yang menciptakan lingkungan kondusif bagi anak muda untuk masyarakat bertumbuh di sektor pertanian.
Digitalisasi pertanian tidak akan berjalan optimal tanpa adanya infrastruktur yang memadai, regulasi yang ramah inovasi, dan komitmen kebijakan yang benar-benar memihak pada petani muda dan bukan hanya sekadar ada diatas kertas saja. Perubahan yang tidak kalah penting juga perlu terjadi pada level narasi dan identitas profesi.
Sudah saatnya kita menggeser framing dari “petani muda” menjadi “agripreneur” yang merupakan pelaku bisnis pertanian dengan memadukan penguasaan teknologi, kemampuan manajerial, kreativitas pemasaran digital, serta semangat kewirausahaan. Seorang agripreneur tidak hanya bekerja di lahan, tetapi juga mengelola data produksi, membangun merek produk pertanian, merancang strategi pemasaran digital, dan mengembangkan model bisnis yang dapat diskalakan. Profil inilah yang sebenarnya sangat sesuai dengan karakter Generasi Z yang kreatif, adaptif, dan nyaman di ruang digital.
Beberapa komunitas petani muda berbasis teknologi dan startup agritech seperti yang mulai berkembang di beberapa daerah telah membuktikan bahwa model ini bukan sekadar wacana. Pada akhirnya, semua ini bermuara pada satu pertanyaan yang mendasar namun jarang kita hadapi dengan serius: siapa yang akan memberi makan Indonesia dua puluh tahun ke depan?
Pertanian digital menawarkan jembatan yang masuk akal antara kebutuhan sektor pertanian akan regenerasi dan keunggulan yang dimiliki Generasi Z. Namun, jembatan itu tidak akan kokoh hanya dengan semangat anak muda semata. Memberi ruang untuk berinovasi, akses permodalan yang lebih inklusif, serta narasi publik yang memposisikan pertanian sebagai profesi modern yang layak dibanggakan. Ketahanan pangan masa depan bukan hanya soal luas lahan atau volume produksi, hal ini dimulai dari keputusan seorang anak muda untuk percaya bahwa bertani merupakan pilihan yang cerdas dan bukan pilihan yang terakhir.
Referensi:
Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Statistik pertanian Indonesia 2023. Jakarta: Badan Pusat Statistik Republik Indonesia.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2022). Program petani milenial dan digitalisasi pertanian. Jakarta: Kementerian Pertanian RI. Susilowati, S. H. (2016). Fenomena penuaan petani dan berkurangnya tenaga kerja muda serta implikasinya bagi kebijakan pembangunan pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 34(1), 35–55.
- Penulis: Ochin
