Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Mengenal Imlek dan Sejarah Perayaan Imlek

Mengenal Imlek dan Sejarah Perayaan Imlek

  • account_circle Ochin
  • calendar_month Sab, 10 Feb 2024

Imlek bukanlah sekadar tahun yang berganti. Bagi masyarakat Tionghoa, Lunar New Year, sebutan lainnya, memiliki makna lebih dari itu.

Dalam penelitian “Fungsi dan Makna Penyambutan Hari Raya Imlek pada Masyarakat Etnis Tionghoa di Kota Bandar Lampung” oleh Oktavia Sanjaya (2016), perayaan Imlek merupakan wujud harapan masyarakat Tionghoa.

Mereka mengharapkan keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan, di tahun yang baru. Mereka pun berharap agar tahun yang baru dilimpahi keberkahan dan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Di samping itu, disebutkan pula dalam buku Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti, hari raya Imlek merupakan ungkapan syukur orang Tionghoa kepada Tian atau Tuhan Yang Maha Esa.

Mereka sengaja mengadakan serangkaian upacara sembahyang pada tanggal 30 bulan ke-12 dan juga pada tanggal 1 bulan ke-1 yinli untuk bersyukur kepada Tian atas kembali bersinarnya mentari sebagai sumber kehidupan.

Ritual keagamaan selama Imlek juga didasarkan pada sebuah perintah dalam Kitab Wujing yang berbunyi,

“Pada hari permulaan tahun, jadikanlah sebagai hari agung untuk melakukan persembahyangan besar ke hadirat Tian (Tuhan Yang Maha Esa).

Dalam kebudayaan orang China, terdapat 12 zodiak atau shio. Seluruh shio itu direpresentasikan dengan hewan-hewan tertentu dan membentuk sebuah siklus 12 tahun.

Dilansir situs resmi Universitas Sydney, 12 shio dalam penanggalan China itu tersusun secara runut dan meliputi

  1. Tikus (shu 鼠),
  2. Kerbau (niu 牛),
  3. Harimau (hu 虎),
  4. Kelinci (tu 兔),
  5. Naga (long 龍),
  6. Ular (she 蛇),
  7. Kuda (ma 馬),
  8. Kambing (yang 羊),
  9. Monyet (hou 猴),
  10. Ayam (ji 雞),
  11. Anjing (gou 狗) dan
  12. Babi (zhu 豬).

Nah, keduabelas tahun yang direpresentasikan dengan shio hewan itu juga memiliki keterkaitan dengan elemen dasar di Bumi. Kelima elemen itu membentuk sebuah siklus 60 tahun yang terdiri atas

  • Logam (jin 金),
  • Kayu (mu 木),
  • Air (shui 水),
  • Api (huo 火), atau
  • Tanah (tu 土).

Adapun untuk tahun baru Imlek 2024, shio-nya adalah Naga Kayu. Dilansir detikNews, dalam kebudayaan Tionghoa, naga merupakan simbol kehormatan, ketangguhan, dan keberuntungan.

Selain itu, naga juga dianggap sebagai makhluk yang membawa keberuntungan dan luar biasa, tidak tertandingi dalam bakat dan keunggulan. (H4/Dc)

  • Penulis: Ochin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Safriati Safrizal Pastikan TP PKK Kep. Babel Dukung Penuh Gerakan “Semarak Babel”

    Safriati Safrizal Pastikan TP PKK Kep. Babel Dukung Penuh Gerakan “Semarak Babel”

    • calendar_month Sen, 19 Feb 2024
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Harga cabai ini pernah naik tinggi, sedangkan kebutuhannya di Kep. Babel pun sangat tinggi. Apabila harus terus-terusan berharap supply dari provinsi lain, ini tentunya akan berpengaruh pada nilai inflasi. Untuk itu, kalau misalnya, tiap keluarga ada nanam cabai, walaupun hanya beberapa polybag, insyaallah bisa membantu permasalahan pemenuhan kebutuhan cabai di masing-masing rumah tangga,” ujar Safriati […]

  • Safrizal Serahkan LKPD Tahun 2023 ke BPK RI

    Safrizal Serahkan LKPD Tahun 2023 ke BPK RI

    • calendar_month Sen, 22 Apr 2024
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    Sementara itu Kepala BPK Perwakilan Provinsi Kepulauan Babel Flora Anita Diassari mengatakan lingkup pemeriksaan pada LKPD ini meliputi tujuh aspek. “Yaitu laporan realisasi anggaran, laporan perubahan sisa anggaran lebih, neraca, laporan operasional, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan,” jelasnya. Ia berharap agar pemerintah daerah dapat bekerjasama dengan baik dan kemudahan […]

  • Dukung Paskibraka Kota Pangkalpinang ke Tingkat Provinsi dan Nasional, Lusje Harapkan Ini

    Dukung Paskibraka Kota Pangkalpinang ke Tingkat Provinsi dan Nasional, Lusje Harapkan Ini

    • calendar_month Rab, 15 Mei 2024
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Sebelumnya kami sudah mengadakan seleksi tingkat kota dan terpilih 34 orang. Dari 34 ini dipilih lagi empat pasang putra dan putri yang terbaik untuk ikut seleksi tingkat provinsi dan nasiona. Nanti kalau lulus tingkat provinsi maupun nasional, mereka tidak kembali lagi ke Paskibraka kota. Namun kalau tidak lolos mereka kembali jadi paskibraka kota,” kata Donal. […]

  • Catat Sejarah, PLN NPC Tuntaskan ECRL FS 01 Lebih Cepat di Malaysia

    Catat Sejarah, PLN NPC Tuntaskan ECRL FS 01 Lebih Cepat di Malaysia

    • calendar_month Rab, 26 Agu 2026
    • account_circle Vritimes
    • 0Komentar

    ECRL atau Jalur Kereta Pantai Timur Malaysia merupakan proyek transportasi penumpang dan kargo yang menghubungkan Pelabuhan Klang, Selangor di pantai barat dengan Kota Bharu, Kelantan di pantai timur, Malaysia. Jaringan sepanjang 665 km tersebut sepenuhnya terelektrifikasi dan diproyeksikan memperkuat konektivitas antara Pantai Timur dan wilayah tengah Semenanjung Malaysia. Bagi masyarakat, infrastruktur kelistrikan ECRL memiliki peran […]

  • Ketua PC 04 FKPPI Bateng Prihatin ada Oknum Guru Pelaku Penyimpangan Seksual Terhadap Siswa

    Ketua PC 04 FKPPI Bateng Prihatin ada Oknum Guru Pelaku Penyimpangan Seksual Terhadap Siswa

    • calendar_month Rab, 6 Mar 2024
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Karena kejadian kasus kekerasan seksual terhadap anak ini, bukan kali ini saja terjadi khususnya di Bangka Tengah,” tutupnya. Selain itu, diingatkan juga kepada para orangtua, agar lebih aktif dan protektif terhadap pergaulan keseharian anaknya, termasuk memantau pergaulan dunia maya atau medsos. (red)

  • Soal Anjuran Toa Masjid, PKS: Menag Gagal Fokus

    Soal Anjuran Toa Masjid, PKS: Menag Gagal Fokus

    • calendar_month Sab, 9 Mar 2024
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    Sehingga, lanjut Jazuli, semarak syiar melalui pengeras suara di bulan suci ini bukan masalah toleransi. Waktunya pun bukan waktu orang istirahat. Takmir masjid dan umat Islam juga pasti punya kontrol sosial yang baik agar syiar itu diterima dengan baik dan tidak mengganggu orang. Ia meminta Menag tidak salah paham hakikat toleransi. Jazuli Juwaini mengibaratkan tradisi […]

expand_less