Menanam & Menambang
- account_circle Ochin
- calendar_month Rab, 21 Feb 2024

Semangat menanam yang selalu diungkapkan dan dilaksanakan oleh Dr. Safrizal, ZA. selaku Pj Gubernur Kep. Bangka Belitung harusnya disambut oleh semua elemen. TNI, POLRI, BUMN, BUMD, Pengusaha, Pemda & Pemkot, terlebih jajaran di Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Begitu banyak lahan-lahan disekitar kita yang terbengkalai, bahkan lahan yang dimiliki oleh Pemprov, Pemda & Pemkot, terutama lahan-lahan milik PT. Timah Tbk.
Nugal, Kearifan Lokal Bertanam Padi
JIKA saja semangat Dr. Safrizal, ZA., ini diiringi aksi kompak semua elemen, saya yakin persoalan kebutuhan mendasar masyarakat Kepulauan Bangka Belitung dapat teratasi. Terlebih harga beras yang kian tinggi ini. Kebiasaan masyarakat Bangka Belitung dalam menanam padi dilahan kering atau disebut “behuma” atau “behume” sebetulnya sangat bisa digalakkan. Nilai kearifan lokal dalam “behume” ini sangat luar biasa. Dulu, saya turut merasakan kebahagiaan beriring keceriaan kala melihat kekompakan orangtua dan masyarakat dalam “behume”. Dari mulai membersihkan lahan, hingga “nugal” (menanam butiran padi secara kompak). Kerjasama dalam “Nugal” ini sangat tampak sekali. Umumnya kaum laki-lali didepan dengan 2 galah ditangan berdiri didepan sambil menghujam tipis-tipis galah ke tanah untuk membuat lobang. Lalu kaum perempuan jalan sambil berjongkok mengisi butiran padi ke dalam lobang tersebut. Kekompakan yang asyik dilihat & dirasakan. Siangnya pasti makan bersama dengan gelak tawa serta cerita-cerita “ngerahul” jadi semakin indah suasana alam. Sayangnya, nilai kearifan lokal yang kini hanya menari dalam balutan kerinduan tak bertepi.
Menanam, Menambang, Bisakah Sejalan?
MASYARAKAT asli Pulau Bangka & Belitung sesungguhnya adalah masyarakat petani, peladang (berkebun ber-ladang). Sebab sejak ratusan tahun silam, pelaku penambang adalah masyarakat luar. Konon sejak abad ke-17, VOC di zaman Belanda harus mengambil warga Tiongkok untuk menambang, sebab masyarakat asli Bangka Belitung lebih mandiri dan percaya diri dengan bertani. Kepercayaan diri itu pupus, sebab semakin marak tambang inkonvensional yang dilakukan oleh masyarakat pendatang dari luar Bangka Belitung. Berpikirlah akhirnya masyarakat Bangka Belitung, “Daripada orang luar, kite juga pacak”. Maraklah anak-anak muda, ibu–ibu bahkan warga petani beralih profesi menjadi penambang.
Terlebih, hasil dari menambang lebih cepat dan besar didapatkan. Tak heran ketika disebut “Boss Timah” minimal mobil double gardan yang dipakai dalam kesehariannya plus tas kempet serta HP keluaran terbaru minimal 2 buah. Saat perayaan Imlek beberapa minggu lalu, saat duduk bareng Pj. Gubernur Kep. Bangka Belitung, Dr. Safrizal dan Dato’ Sri H. Ramli Sutanegara, saya ditanya: “Ananda, apa bedanya kaya dari nambang timah dan kaya dari hasil perkebunan?”. Mendapati pertanyaan dari Dato’ Sri H. Ramli Sutanegara ini saya spontan menjawab: “Kalau kaya dari nambang timah, lebih cepat tapi tak bertahan lama sehingga tak membahagiakan jiwa. Kalau kaya dari pertanian atau perkebunan itu agak lama, tapi rutin dan yang pasti sangat membahagiakan jiwa”. Mendengar jawaban spontan saya itu, beliau tertawa, tidak mengiyakan atau membantah.
Memang, peroalehan yang besar dan cepat dari menambang ternyata mudah membuat silau masyarakat kita yang akhirnya beralih profesi. Akhirnya, ketika persoalan timah seperti sekarang ini terjadi, riuh masyarakat penuh kekhawatiran tak dihindari. Padahal, aslinya, masyarakat asli Bangka Belitung tak pernah hirau atau riuh dengan persoalan timah, sebab masyarakat asli lebih cenderung bertani (berladang) mengolah lahan, bukan tambang. Namun seiring perjalanan waktu, perubahan kebijakan dan payung hukum semarawut, ternyata merubah karakter masyarakat asli Bangka Belitung.
Tanam dan Tambang, menanam dan menambang sangat mungkin berjalan beriringan, jika tata kelola lahan bisa jelas. Pastinya kecerdasan dan ketegasan Pemerintah melalui payung hukum yang jelas harus dilaksanakan. Timah adalah anugerah bagi masyarakat Bangka Belitung, tapi anugerah ini diiringi keserakahan, akan menjadi musibah. Tanah yang subur adalah anugerah, tapi tanpa dikelola dengan baik, tanah subur hanya bikin kita kufur akan nikmat Allah SWT.
- Penulis: Ochin
