Transaksi Kripto Turun 33%, tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan?
- account_circle VRITIMES
- calendar_month Jum, 28 Agu 2026

CDN.id, Jakarta – Pasar kripto Indonesia tengah menghadapi situasi yang cukup unik. Nilai transaksi mengalami penurunan tajam, tetapi jumlah investor justru terus bertambah di tengah tekanan daya beli masyarakat.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto sepanjang semester I/2026 mencapai Rp150,60 triliun, turun 33,56% secara tahunan dari Rp226,68 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, jumlah investor aset kripto meningkat dari 20,19 juta orang pada Desember 2025 menjadi 22,69 juta orang pada Juni 2026. Artinya, ada tambahan sekitar 2,5 juta investor hanya dalam enam bulan.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kondisi tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap kripto belum hilang, tetapi pola investasinya mulai berubah akibat tekanan ekonomi.
“Basis investor tetap tumbuh meski nilai transaksinya turun. Ini menunjukkan masyarakat masih masuk ke pasar kripto, hanya saja dengan nilai transaksi yang lebih kecil karena tekanan daya beli,” ujar Yudho.
Menurutnya, pelemahan transaksi tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik. Kapitalisasi pasar kripto global juga sempat turun sekitar 45%, dari sekitar US$4,2 triliun pada Oktober 2025 menjadi US$2,3 triliun pada Maret 2026.
Karena itu, penurunan transaksi di Indonesia dinilai lebih mencerminkan kombinasi tekanan ekonomi domestik dan pelemahan pasar global, bukan penurunan minat terhadap aset kripto secara struktural.
Kelas Menengah Tertekan, Pola Investasi Berubah
Tekanan daya beli menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi aktivitas investasi. Jumlah kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah tercatat meningkat dari 137,5 juta orang pada 2024 menjadi 142 juta orang pada 2025, atau sekitar 50,4% dari total penduduk Indonesia.
- Penulis: VRITIMES
