Transaksi Kripto Turun 33%, tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan?
- account_circle VRITIMES
- calendar_month Jum, 28 Agu 2026

Yudho menjelaskan, ketika ketahanan finansial rumah tangga melemah, alokasi dana untuk instrumen berisiko seperti kripto cenderung ikut berkurang.
“Kripto bukan kebutuhan primer. Ketika kondisi ekonomi rumah tangga tertekan, masyarakat secara alami akan menjadi lebih konservatif dalam berinvestasi,” katanya.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat meninggalkan pasar kripto. Sebaliknya, investor mulai bertransaksi dengan nominal lebih kecil, lebih selektif, dan lebih berhati-hati.
Perubahan ini juga terjadi bersamaan dengan turunnya posisi Indonesia dalam peringkat adopsi kripto global, dari sebelumnya peringkat ketiga menjadi peringkat ketujuh berdasarkan laporan Chainalysis.
Persaingan Industri Makin Ketat
Di tengah tekanan transaksi, minat pelaku industri terhadap pasar Indonesia masih tinggi. Hingga pertengahan 2026, OJK telah mengizinkan 32 entitas dalam ekosistem perdagangan aset kripto, dengan lebih dari 1.200 aset kripto legal diperdagangkan.
Masuknya pemain global ke Indonesia juga menunjukkan pasar domestik masih dinilai memiliki potensi pertumbuhan.
Menurut Yudho, kondisi tersebut membuat perusahaan kripto perlu mengubah strategi. Fokus tidak lagi hanya pada akuisisi pengguna, tetapi juga memperdalam transaksi dan menghadirkan produk yang sesuai dengan perubahan karakter investor.
Salah satu peluang datang dari tokenized stocks. Volume perdagangan tokenized stocks secara global melonjak dari US$831 juta pada Juli 2025 menjadi US$54 miliar pada Juni 2026.
- Penulis: VRITIMES
