Ketidakmampuan & ketidakmandirian kita dalam memenuhi kebutuhan hidup ini sepertinya tidak perlu kita perpanjang dan harus ada perubahan mendasar (karakter) dari diri kita sebagai orang Bangka Belitung.
Sebab, yang paling mendasar seperti bumbu – bumbu dapur, ternyata kita harus membeli dari luar. Bahkan saya pernah bertanya kepada masyarakat di kampung yang notabene adalah petani.
“Apa kunyit, terong, lengkuas, cabe, bawang, harus beli dari Pangkalpinang?” Mereka menjawab: “Iya“.
Dulu, saya melihat orangtua kala pulang dari Pangkalpinang, yang dijinjing adalah jagung rebus atau jeruk. Sekarang tak jarang kita melihat orang kampung pulang dari Pangkalpinang justru membawa yang namanya kunyit, lengkuas, cabe, apalagi bawang.
Terlebih ketika hendak lebaran atau kenduri. Peristiwa seperti ini kita saksikan, betapa miris terjadi, padahal berapa luas lahan yang ada di depan mata kita yakni di kebun. Namun, hari ini, kita menyaksikan kebun-kebun masyarakat hanya berisi tanaman keras saja, seperti sawit.
Tidak ada “prang prik” kebun sebagaimana kebun orangtua kita dulu. Prang prik itu adalah bahasa kami masyarakat Mendobarat yang berarti anekaragam tanaman kebutuhan sehari hari di kebun seperti kunyit, cabe, terong, lengkuas, ubi, dan lain sebagainya. “Prang prik” ini adalah ketahanan pangan masyarakat kita tempo doeloe.
Lihatlah sejarah bagaimana orangtua kita ketika awal membuka kebun, ubi (singkong) adalah tanaman pertama yang mereka tanam, sebagai upaya ketahanan pangan keluarga.
Pergeseran cara kita berkebun bahkan kurangnya kreativitas kita memanfaatkan lahan, mungkin disebabkan beberapa faktor:
(1) Kurang Kreatif Tidak Produktif
Karakter kita yang sering disebut “dak kawa nyusah” ternyata melekat pada kreativitas dan produktivitas dalam mengelola lahan. Bandingkan dengan masyarakat Pulau Jawa dan Madura dalam memanfaatkan lahan sempit menjadi produktif.
Jangan heran, kalau nanti (sekarang sedang proses) di Bangka, yang sukses dalam pertanian, peternakan, budi daya & pemanfaatan lahan tidak produktif adalah perantauan Jawa & Madura. Kita siap-siap jadi penonton, sebab anak-anak muda kita lebih senang jadi karyawan di Kota.
(2) Dimanja Lingkungan/Alam
Keberadaan kita di zona nyaman kerapkali semakin kuat karakter “dak kawa nyusah“.
Begitu terbiasa kita merasa mudah mendapatkan uang, misalnya cukup nambang timah sebentar, sudah menghasilkan uang, akhirnya membuat kita tidak produktif dalam mengelola lahan dan memanfaatkannya untuk bercocok tamam, budidaya atau ternak.
(3) Lahan Dikuasai Pengusaha
Kita akui, pengusaha-pengusaha di perkotaan menguasai lahan-lahan di pedesaan. Kita tidak bisa menyalahkan pengusaha, sebab tidak akan mereka miliki kalau pemilik (masyarakat) tidak menjual.