Refleksi HPN 2026 Pemberitaan Tentang Anak dalam Perspektif News-Making Criminology
- account_circle Ochin
- calendar_month Ming, 11 Jan 2026

Data ini menunjukkan bahwa persoalan ABH bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan struktural. Dalam kajian sosiologi kejahatan, Howard Becker (1963) mengingatkan bahwa seseorang kerap dipahami sebagai menyimpang bukan semata karena perbuatannya, melainkan karena label sosial yang dilekatkan. Di titik inilah media, dengan jangkauan dan kekuatan simboliknya, memainkan peran penting dalam membentuk makna tentang siapa yang dianggap “bermasalah”.
Proses pelabelan ini sering berkelindan dengan apa yang oleh Stanley Cohen (1972) sebut sebagai moral panic. Pemberitaan yang berulang, menonjolkan aspek dramatis, dan minim konteks dapat memperbesar persepsi ancaman, sehingga kasus-kasus tertentu seolah mewakili keseluruhan kelompok anak dan remaja. Anak kemudian diposisikan sebagai sumber keresahan sosial, bukan sebagai individu yang sedang berada dalam situasi rentan. Padahal, yang dibutuhkan anak adalah pendampingan, pembelajaran, dan pemulihan bukan stigma dan generalisasi.
Penutup
Perlindungan anak di Indonesia sesungguhnya telah memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Perlindungan Anak, terakhir diperbarui dengan UU No. 35 Tahun 2014, yang menjamin hak-hak dasar anak dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, ketika anak berhadapan dengan hukum pidana, negara menerapkan kerangka khusus melalui Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU No. 11 Tahun 2012) sebagai lex specialis. Undang-undang ini mengatur secara lebih rinci proses peradilan pidana anak dengan menekankan pendekatan pemulihan dan keadilan restoratif, alih-alih semata-mata penghukuman.
Dalam konteks tersebut, praktik pemberitaan yang sensitif dan berimbang menjadi bagian penting dari ekosistem perlindungan dan pemulihan anak. Dalam kerangka news-making criminology, pemberitaan ramah anak bukanlah upaya membungkam fakta, melainkan ikhtiar menempatkan jurnalisme sebagai ruang pembelajaran publik yang adil, empatik, dan bertanggung jawab tanpa kehilangan daya kritisnya.
- Penulis: Ochin
