Kenapa Selalu WHO bukan WHAT?
- account_circle Ochin
- calendar_month Sab, 27 Jan 2024

So, di negeri ini, demokrasi kita akhirnya hanya bicara soal kursi (yang penting dapat kursi), tidak bicara prestasi. Muncul cacing-cacing bergaya naga dan alkohol bermerek zam-zam. Akhirnya rakyat linglung dalam memilih dan pada titik nadir tidak bisa membedakan mana roti, mana tai. Pemilu belum mulai, hasilnya sudah ada. Akhirnya yang kapasitas minim intelektualitas & spiritualitas, digiring bagaikan kambing untuk memilih yang diarahkan menang. Waduh….
Reformasi Tak Lagi Berbunyi
1998, gaung reformasi kita sepakati. Kekuasaan tunggal dengan KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme) membuat muak rakyat, terutama kaum muda intelek bernama mahasiswa. Saat itu, keberanian dan kekokohan mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran (reformasi) sangatlah keren. Mereka tidak merunduk dibawah ketiak penguasa dan pengusaha, apalagi cuma sekedar jadi Timses. Bagaimana dengan mahasiswa hari ini?
Belum lama, tapi gaung reformasi itu tak lagi berbunyi, lenyap bal ditelan bumi. Apa yang ditolak seperti KKN itu kini justru bangkit lagi. Bahkan mengangkangi konstitusi. Istilahnya kalau dulu masa Orde Baru, korupsi dilakukan dibawah meja, pasca reformasi korupsinya sudah berani diatas meja dan sekarang ini malah mejanya sekalian dikorupsi. Terjadinya korupsi terus menerus setidak ada 3 sebab: (1) Karena keserakahan (2) Karena kebutuhan (gaji rendah) dan (3) Karena peraturan (regulasi). Siapa pemimpin yang bisa mengtasi ini?
Nepotisme jangan ditanyakan, istilah ordal (oramg dalam), tak bisa dipungkiri. Etika jangan disebut-sebut, sebab “etik etik ndasmu”. Beginikah kita memperlakukan Ibu Pertiwi yang penuh dengan cinta kasih serta perjuangan para orangtua kita memerdekakan negeri ini? Apakah negeri ini tidak membutuhkan etika lagi? Kata kawan saya, Marbawi A Katon “Diatas Hukum ada etika, diatas politik ada perikemanusiaan”.
- Penulis: Ochin
