Jepang Berdamai dengan Nuklir: Pelajaran Penting bagi Indonesia
- account_circle Ochin
- calendar_month Sel, 6 Jan 2026

Ladang angin Abukuma yang membentang di punggung pegunungan, pembangkit panas bumi di Tsuchiyu Onsen, hingga panel surya yang berdiri di atas lahan bekas permukiman, menjadi bukti bahwa trauma tidak selalu berujung penolakan.
Pemerintah prefektur Fukushima bahkan menargetkan 100% energi terbarukan pada 2040. Warga, pelaku usaha, dan pemerintah daerah bergerak bersama.
Energi tidak lagi hanya diproduksi untuk kota besar seperti Tokyo, tetapi juga dikonsumsi secara lokal—untuk balai kota, proyek perikanan, hingga usaha kecil.
Namun, di tingkat nasional, Jepang tetap realistis. Energi terbarukan akan tumbuh hingga 40–50%, tetapi nuklir tetap dipertahankan sebagai penopang sistem. Jepang belajar dengan cara yang pahit, tetapi tidak memilih berhenti.
Pelajaran Penting
Apa relevansinya bagi Indonesia? Indonesia juga bukan negara tanpa trauma atau ketakutan. Setiap kali nuklir dibicarakan, bayangan Fukushima dan Chernobyl sering muncul lebih dulu.
Padahal, kondisi energi Indonesia hari ini semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi, hilirisasi industri, dan transisi energi menuntut pasokan listrik yang besar, stabil, dan bersih.
Di banyak daerah, termasuk wilayah kepulauan seperti Bangka Belitung, tantangan energi bahkan lebih nyata: harga listrik tinggi, sistem interkoneksi terbatas, dan ketergantungan pada energi fosil.
Energi surya memang menjanjikan, tetapi sifatnya tidak stabil dan belum mampu menjadi tulang punggung industri.
Jepang memberi satu pesan penting: takut itu manusiawi, tetapi berhenti karena takut justru berbahaya.
Tidak Sempurna, Tapi Terkendali
Jepang tidak menyangkal risiko nuklir. Negara itu justru membayar mahal akibat kelalaian masa lalu—biaya dekomisioning Fukushima telah mencapai puluhan miliar dolar.
Namun dari pengalaman itu, Jepang memperbaiki standar keselamatan, tata kelola, dan transparansi.
Data global menunjukkan bahwa jika diukur dari tingkat kematian per energi yang dihasilkan, nuklir termasuk yang paling aman.
- Penulis: Ochin
