Refleksi HPN 2026 Merawat Empati Jurnalisme di Tengah Gempuran AI
- account_circle Ochin
- calendar_month Sen, 19 Jan 2026

AI dapat menulis berita. Namun teknologi tersebut tidak memahami ketimpangan sosial, tidak merasakan dampak kebijakan publik, dan tidak memikul tanggung jawab etis. Jika jurnalisme Indonesia hanya mengejar efisiensi teknologi, praktik jurnalistik berisiko berubah menjadi pabrik konten yang hidup secara teknis, tetapi mati secara substantif.
Di titik inilah Hari Pers Nasional 2026 seharusnya mengambil peran lebih dari sekadar perayaan. HPN 2026 perlu menjadi momentum refleksi kolektif untuk merumuskan arah jurnalisme Indonesia di era kecerdasan buatan. Jika jurnalisme Indonesia mampu merumuskan genre baru yang sadar teknologi, kuat secara etika, dan peka terhadap konteks sosial, maka AI tidak akan menjadi ancaman eksistensial.
Sebaliknya, teknologi tersebut dapat menjadi alat untuk memperkuat fungsi jurnalisme sebagai ruang kritik, refleksi, dan pembentuk nalar publik di tengah demokrasi yang terus diuji.
Penulis adalah Dosen Kriminologi FISIP UI, Dewan Redaksi keadilan.id, dan Pengurus PWI Jaya
Boks Info
Tokoh Kunci Jurnalisme & AI
• Matt Carlson – Akademisi AS yang memperkenalkan istilah automated journalism,
• Jay Rosen – Profesor pengkritik runtuhnya peran media sebagai gatekeeper di era digital,
• Axel Bruns – Akademisi media Australia, penggagas konsep gatewatching,
• Nick Davies – Jurnalis investigasi Inggris, pengkritik churnalism dan jurnalisme instan,
• Nicholas Diakopoulos – Profesor peneliti algorithmic accountability dan bias AI,
• Bill Kovach & Tom Rosenstiel – Penulis The Elements of Journalism,
• Robert Chesney & Danielle Citron — Pakar hukum AS yang memperingatkan bahaya deepfake.
- Penulis: Ochin
