Puluhan Wartawati dan Sastrawan Ikuti Kemah Budaya Baduy HPN 2026
- account_circle Ochin
- calendar_month Sen, 19 Jan 2026

‘’Baduy menjadi kesitimewaan bagi Kabupetan Lebak, tentu juga bagi Banten. Baduy mengajarkan nilai kehidupan yang sederhana, jujur, dan selaras dengan alam. Tema Belajar Mencintai dari Baduy ini menjadi pengingat penting bagi insan pers agar tetap menjaga nurani, etika, dan tanggung jawab sosial,’’ katanya.
Sementara itu, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat, Ramon Damora, mengatakan, Kemah Budaya ini merupakan bagian dari refleksi jurnalistik menjelang HPN 2026. Ia menegaskan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang pembelajaran bagi wartawan untuk memahami nilai-nilai kebudayaan secara langsung.
“Baduy memberi pelajaran tentang mencintai kehidupan dengan cara yang jujur mencintai alam, tradisi, dan sesama. Nilai-nilai ini penting dihayati wartawan agar karya jurnalistik tidak hanya informatif, tetapi juga berjiwa dan berempati,” kata Ramon.
Selain Ramon, hadir dari Pengurus PWI Pusat Ketua Komisi Pemberdayaan Wartawan Perempuan (KPWP) Henny Murniati, Wakil Ketua II Bidang Kerjasama dan Kemitraan Kadirah, Wakil Direktur I Satgas Anti Hoax Mercys Charles Loho, dan Wakil Ketua II Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya Kunni Masrohanti.
Kepala Diskominfo Kabupaten Lebak, Anik Sakinah, turut menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Kemah Budaya PWI. Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkenalkan kekayaan budaya Baduy yang hingga kini tetap menjaga kelestarian alam dan tradisi leluhur.
“Lebak memiliki Baduy yang konsisten menjaga alam dan nilai-nilai budaya. Ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama,” ucap Anik.
Keliling Museum Multatuli
Sebelum berangkat ke kawasan adat Baduy, rombongan peserta diajak berkeliling Museum Multatuli yang dipandu langsung oleh Kepala Museum Ubaidillah Muchtar. Museum ini diresmikan sejak tahun 2018 yang berfokus pada pengembangan museum, sejarah, antikolonialisme, edukasi dan pelestarian jejarah Lebak. Ubaidillah atau yang akrab disapa Kang Ubai berperan penting dalam keberlanjutan museum ini.

Kang Ubai membawa rombongan berkeliling museum. Ia menceritakan banyak hal. Dimulai dari gambar yang tertera di dinding museum hingga kegigihan dan karya-karya hebat serta pemikiran Multatuli yang berpengaruh besar pada kemerdekaan Indonesia serta menceritakan orang-orang yang pernah mengukir sejarah Rangkasbitung dalam karya-karyanya.
Kang Ubai menunjukkan novel satire karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar, nama pena dari Eduard Douwes Dekker. Buku berjudul lengkap Max Havelaar terbit atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda ini pertama kali terbit tahun 1860, setelah Douwes Dekker menjabat sebagai asisten residen di Lebak. Semua buku-buku karya Multatuli masih utuh dan lengkap serta terjaga dengan baik.
‘’Mengapa Museum Multatuli ada di Rangkasbitung karena dari segi geografis, Rangkasbitung merupakan Ibu Kota Kabupaten Lebak dan lokasinya strategis, sehingga museum ini lebih mudah diakses oleh pengunjung yang datang dari luar daerah. Masuk museum ini sangat murah. Untuk anak sekolah Rp1000, orang dewasa seperti Bapak dan Ibu sekalian Rp2000, untuk pengunjung mancanegara Rp15.000. Dalam waktu sebentar, ribuan pengunjung datang ke sini. Semoga museum ini menjadi pusat literasi dan pusat pembelajaran bagi siapapun,’’ harap Kang Ubai.
Mendengar Petuah Jaro dan Jelajah Budaya
- Penulis: Ochin
