Indonesia Kalah dari Singapura di Pasar Kripto Asia, Apa yang Harus Dikejar?
- account_circle Vritimes
- calendar_month 7 jam yang lalu

CDN.id – JAKARTA, Indonesia memiliki basis pengguna aset kripto yang besar, tetapi masih tertinggal dari Singapura dalam menjadikan aset digital sebagai bagian dari infrastruktur keuangan dan menarik aktivitas institusional.
Temuan tersebut tercermin dalam riset terbaru Chainalysis bertajuk 2026 Geography of Crypto Report. Dalam periode Juli 2025 hingga Juni 2026, Singapura tercatat sebagai ekonomi kripto terbesar di kawasan Central & Southeast Asia and Oceania (CSAO), dengan aktivitas mencapai US$284 miliar, tumbuh 55,4 persen secara tahunan.
Sebaliknya, pasar kripto di kawasan secara keseluruhan justru mengalami kontraksi 6,8 persen. Namun, Singapura mampu mencatat pertumbuhan di berbagai indikator, mulai dari aktivitas centralized exchange (CEX), decentralized exchange (DEX), hingga aktivitas institusional.
Hal paling menonjol adalah aktivitas melalui platform institusional di Singapura yang melonjak 94 persen menjadi US$60 miliar. Aktivitas tersebut mencakup market maker, broker institusional, OTC, dan layanan lain yang melayani investor serta pelaku pasar berskala besar.
Sementara itu, Chainalysis menilai perkembangan pasar kripto di kawasan Asia mulai bergerak dari sekadar aktivitas perdagangan menuju pemanfaatan aset digital untuk kebutuhan yang lebih luas, seperti pembayaran lintas negara, tokenisasi aset, dan manajemen treasury perusahaan.
Indonesia Punya Basis Pengguna, tetapi Tantangannya Berbeda
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk mengejar posisi tersebut.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan jumlah akun konsumen pedagang aset keuangan digital mencapai 23,21 juta akun pada Agustus 2026, meningkat 1,23 persen dibandingkan Juli yang berada di level 22,93 juta akun.
Pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto Indonesia mencapai Rp23,16 triliun, naik 12,87 persen secara bulanan dari Rp20,52 triliun pada Juli 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pasar domestik tetap memiliki basis pengguna dan aktivitas transaksi yang kuat. Namun, besarnya jumlah pengguna belum otomatis membuat Indonesia menjadi pusat aktivitas aset digital regional.
Perbedaan tersebut menjadi semakin terlihat jika dibandingkan dengan pendekatan Singapura. Chainalysis mencatat pertumbuhan Singapura terutama ditopang oleh masuknya institusi, pengembangan infrastruktur pasar, serta penggunaan aset digital untuk kebutuhan finansial yang lebih luas.
Di Singapura, arus ke centralized exchange tumbuh 30 persen, sedangkan arus ke decentralized exchange meningkat 69 persen dalam periode penelitian. Pada saat yang sama, aktivitas platform institusional tumbuh jauh lebih cepat, yakni 94 persen.
Artinya, kompetisi pasar kripto ke depan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak orang yang memiliki atau memperdagangkan aset kripto, termasuk Bitcoin tetapi juga oleh seberapa besar ekosistem tersebut mampu menarik institusi, modal, infrastruktur, dan use case baru.
Mengapa Singapura Bisa Lebih Unggul?
Salah satu faktor utama yang membedakan Singapura adalah kepastian dan perkembangan kerangka regulasi untuk aset digital.
- Penulis: Vritimes
