Bitcoin Kembali Tertekan, CPI dan The Fed Jadi Penentu Arah Berikutnya
- account_circle VRITIMES
- calendar_month 3 menit yang lalu

CDN.id, Jakarta – Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah level psikologis US$80.000 setelah sempat menembus US$82.000 pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan kembali mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Per sekitar pukul 09.00 WIB pada Sabtu (5/9), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$79.578, melemah sekitar 1,9% dalam 24 jam. Dalam periode yang sama, BTC sempat menyentuh level tertinggi US$82.108 dan terendah sekitar US$78.706.
Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah Bureau of Labor Statistics (BLS) AS melaporkan penambahan 162.000 lapangan kerja nonpertanian pada Agustus 2026, jauh di atas perkiraan ekonom. Tingkat pengangguran juga bertahan di level 4,1%. Data tersebut memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat dan memberi ruang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa faktor makroekonomi masih menjadi salah satu penggerak utama pasar aset kripto dalam jangka pendek.
“Pergerakan Bitcoin saat ini memperlihatkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan likuiditas global. Data tenaga kerja AS yang kuat membuat investor kembali menghitung kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih ketat. Jadi, koreksi ini lebih banyak mencerminkan perubahan sentimen makro dibandingkan perubahan fundamental Bitcoin itu sendiri,” ujar Yudho.
- Penulis: VRITIMES
