Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Antara Infrastruktur dan Tata Kelola yang Buruk: Mengapa Krisis Banjir di Medan dan Deli Serdang Terus Berulang?

Antara Infrastruktur dan Tata Kelola yang Buruk: Mengapa Krisis Banjir di Medan dan Deli Serdang Terus Berulang?

  • account_circle Ochin
  • calendar_month Rab, 5 Nov 2025

Sebenarnya ada Rencana Penanggulangan Bencana Kota Medan 2022-2027. Dokumennya lengkap, 16 strategi disusun rapi. BPBD, Dinas PU, Dinas Lingkungan Hidup, semuanya ada tugas masing-masing. Tapi di lapangan? Koordinasinya hampir tidak terasa.

Medan butuh kerja sama dengan Deli Serdang, Karo, dan Simalungun karena hulu sungai ada di sana. Tapi masing-masing daerah sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang memaksa mereka bekerja sama. Tidak ada sanksi kalau tidak koordinasi. Hasilnya, banjir di Medan terus terjadi karena hulu tidak dikelola dengan baik.

Anggota DPRD Sumut pernah bilang, “Koordinasi antar pemerintah bukan pilihan—itu kewajiban.” Tapi kenyataannya, kewajiban itu masih jadi barang langka.

Anggaran Ada, Tapi ke Mana?

Pemerintah bilang anggarannya terbatas. Tapi apakah yang ada sudah dipakai dengan benar? Proyek normalisasi sungai dan perbaikan drainase sering tidak selesai atau dilakukan setengah-setengah. Transparansi penggunaan anggaran juga minim. Kita tidak tahu berapa yang dialokasikan, untuk proyek apa, dan seefektif apa.

Yang lebih menyedihkan, proyek-proyek infrastruktur kesan hanya untuk “memenuhi target dari pusat,” bukan untuk menyelesaikan masalah banjir secara tuntas.

Banjir Jadi Panggung Politik

Setiap kali banjir datang, politisi ramai turun ke lokasi. Bagi-bagi bantuan, janji perbaikan, foto-foto. Tapi begitu air surut, janji-janji itu ikut menguap. Pola ini terulang terus. Banjir jadi ajang pencitraan, bukan momen untuk evaluasi dan perbaikan.

Ironisnya, Pilkada yang seharusnya memilih pemimpin untuk lima tahun ke depan malah tertunda karena banjir—masalah yang sudah terprediksi setiap tahun. Ini menunjukkan betapa gagalnya kita mengelola persoalan mendasar.

Kita Semua Punya Peran

Jujur saja, penelitian menunjukkan faktor aktivitas manusia punya pengaruh paling besar terhadap banjir, bahkan lebih dari curah hujan itu sendiri. Kebiasaan buang sampah sembarangan, membangun rumah menutupi saluran air, tidak ikut gotong royong bersihkan selokan—semua itu memperparah banjir.

  • Penulis: Ochin

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less