Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Editorial » Refleksi HPN 2026: 10 Tantangan Jurnalis Indonesia di Era Media Baru

Refleksi HPN 2026: 10 Tantangan Jurnalis Indonesia di Era Media Baru

  • account_circle Ochin
  • calendar_month Jum, 19 Des 2025

Kedelapan, prekarisasi kerja dan kesehatan profesi jurnalis. Kontrak tidak tetap, upah rendah, dan beban kerja tinggi menjadi realitas banyak jurnalis digital. Kondisi ini bukan sekadar isu ketenagakerjaan, melainkan indikator kesehatan pers itu sendiri. Dalam jangka panjang, prekarisasi berpotensi menggerus profesionalisme dan keberlanjutan profesi jurnalis, karena mendorong praktik kerja serba cepat, multitugas berlebihan, serta ketergantungan pada konten instan yang minim pendalaman.

Kajian Deuze dan Witschge (2018) menunjukkan bahwa ketidakpastian kerja yang kronis dapat melemahkan identitas profesional jurnalis dan menurunkan kapasitas mereka menjalankan fungsi kritis sebagai penjaga kepentingan publik. Lebih jauh, ketika profesi jurnalis tidak lagi menjanjikan keamanan ekonomi dan martabat kerja, regenerasi jurnalis berkualitas terancam terhenti, sehingga peran pers sebagai institusi demokrasi berisiko mengalami peluruhan dari dalam. Pers yang sehat mustahil lahir dari jurnalis yang bekerja dalam ketidakpastian struktural.

Jadi, kebijakan apa yang diperlukan agar kesejahteraan jurnalis dipandang sebagai prasyarat utama bagi keberlangsungan pers yang sehat dan keberlanjutan profesi jurnalis itu sendiri?

Kesembilan, tantangan etika dan otoritas di era kecerdasan buatan (AI). Pemanfaatan AI dalam produksi berita menawarkan efisiensi dalam pengolahan data, penulisan awal, dan distribusi konten, tetapi juga menimbulkan risiko etis yang konkret dan sistemik.

Kajian Diakopoulos (2019) menunjukkan bahwa algoritma dalam jurnalisme berpotensi mereproduksi bias struktural karena dilatih dari data historis yang tidak netral, sehingga dapat memperkuat stereotip atau ketimpangan representasi.

Selain itu, laporan UNESCO Journalism, Artificial Intelligence and Big Data (2021) menegaskan risiko pengaburan tanggung jawab editorial, ketika kesalahan informasi sulit ditelusuri antara keputusan manusia dan sistem otomatis. Risiko lainnya adalah normalisasi kesalahan faktual berskala besar, karena konten berbasis AI dapat diproduksi dan disebarkan dengan sangat cepat sebelum melalui proses verifikasi jurnalistik yang memadai.

Dalam konteks ini, jurnalis dan institusi media ditantang untuk memastikan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu editorial yang transparan dan dapat diaudit, bukan sebagai otoritas pengganti penilaian etis, tanggung jawab profesional, dan akuntabilitas manusia dalam kerja jurnalistik

Pertanyaannya, bagaimana pedoman etika dan regulasi dapat dikembangkan agar penggunaan AI tetap sejalan dengan prinsip dasar jurnalisme?

Kesepuluh, menurunnya kepercayaan publik terhadap media. Kepercayaan publik merupakan modal utama pers dan fondasi legitimasi sosial jurnalisme. Dalam teori kepercayaan media (Kohring & Matthes, 2007), kepercayaan berfungsi sebagai mekanisme pengurang kompleksitas; tanpa kepercayaan, komunikasi publik akan mengalami krisis legitimasi.

Di era digital, kesalahan kecil yang viral dapat dengan cepat merusak reputasi institusi media secara luas dan berkelanjutan. Kajian Edelman Trust Barometer (2023) menunjukkan bahwa media global mengalami penurunan tingkat kepercayaan publik akibat persepsi bias, misinformasi, dan kurangnya transparansi editorial.

Sejalan dengan itu, riset Pew Research Center (2020) menemukan bahwa publik semakin skeptis terhadap media karena kesulitan membedakan antara jurnalisme profesional, opini, dan konten partisan di ruang digital. Dalam konteks bangsa yang kuat, pers dituntut membangun relasi yang lebih transparan, akuntabel, dan dialogis dengan publik agar kepercayaan tidak hanya dipulihkan, tetapi juga dipertahankan sebagai prasyarat utama demokrasi yang sehat.

Titik krusialnya, langkah konkret apa yang harus ditempuh media untuk memulihkan kepercayaan publik secara konsisten dan berjangka panjang?

Tema HPN 2026 menegaskan bahwa pers yang sehat hanya dapat tumbuh dari jurnalis yang berintegritas dan bekerja dalam kondisi yang bermartabat, ekonomi pers yang berdaulat hanya mungkin terwujud dalam ekosistem yang adil dan tidak timpang, serta bangsa yang kuat hanya dapat dibangun di atas fondasi informasi yang jernih, terverifikasi, dan dapat dipercaya.

Sepuluh tantangan ini memperlihatkan bahwa krisis pers Indonesia bukan semata persoalan teknologi atau disrupsi digital, melainkan persoalan struktural yang menyangkut model bisnis, perlindungan hukum, etika, profesionalisme, hingga keberlanjutan profesi jurnalis itu sendiri.

Oleh karena itu, masa depan pers Indonesia akan sangat ditentukan oleh keberanian jurnalis, institusi media, negara, dan platform digital untuk secara kolektif menjaga nilai-nilai dasar jurnalisme –independensi, akurasi, akuntabilitas, dan kepentingan publik – di tengah arus perubahan zaman yang kian cepat dan kompleks.(*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Penulis: Ochin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dunia Ponpes Kembali Tercoreng, Lagi Santri Tewas Diduga Akibat Dianiaya

    Dunia Ponpes Kembali Tercoreng, Lagi Santri Tewas Diduga Akibat Dianiaya

    • calendar_month Sel, 5 Mar 2024
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Untuk saat Ini masih didalami, mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada titik terang,” tambahnya. Ia juga mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kematian santri tersebut, lantaran pihaknya masih menunggu hasil autopsi. Sebelumnya seorang santri berinisial MF, 16 tahun, tewas diduga akibat dikeroyok dan dianiaya di kawasan Pondok Pesantren Miftahul Huda 606, Desa Agom, Kecamatan Kalianda, pada Ahad […]

  • Harmoni Tambang dan Wisata, Awek Fishing and Resto Hadirkan Pemancingan di Bangka Selatan

    Harmoni Tambang dan Wisata, Awek Fishing and Resto Hadirkan Pemancingan di Bangka Selatan

    • calendar_month Jum, 13 Jun 2025
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Dulunya ini hanya pemancingan, dan kolam ikan itu merupakan lahan bekas tambang yang memang digali tidak terlalu dalam. Lalu saya berpikir untuk membuat ini menjadi teduh lalu menanam sawit bebarapa tahun lalu. Hasilnya seperti sekarang, karena memang awalnya hanya mau bikin tempat pemancingan lalu berkembang,” ceritanya beberapa waktu lalu. Di lahan seluas 1 hektra, saat […]

  • Kemendagri Umumkan Pengelolaan Keuangan Pemkab Basel Tahun 2022 Terbaik di Babel

    Kemendagri Umumkan Pengelolaan Keuangan Pemkab Basel Tahun 2022 Terbaik di Babel

    • calendar_month Ming, 24 Des 2023
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    Lebih lanjut, Riza Herdavid turut mengapresiasi jajaran tim OPD yg turut berkontribusi dalam menyusun anggaran sekaligus mengawal proses administrasi dengan baik. Hal senada juga disampaikan Kepala Bappelitbangda Basel Ir. Herman, Herman mengucapkan apresiasinya untuk pemerintahan Kabupaten Basel, dan berharap penyampaian ini menjadi motivasi untuk para OPD yang ada di pemerintahan Kabupaten Basel.

  • “Behume”, Solusi Ketahanan Pangan Bangka Belitung

    “Behume”, Solusi Ketahanan Pangan Bangka Belitung

    • calendar_month Ming, 25 Feb 2024
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    Hasil dari panen padi inilah yang akhirnya disimpan (masih berbentuk padi) oleh para orangtua kita. Lantas diambil sesuai kebutuhan dan ditumbuk agar menjadi beras. Seiring perjalanan waktu, ada mesin pengelupas kulit padi. Padi-padi yang tersimpan inilah sebagai ketahanan pangan orangtua kita dulu, sehingga mereka sangat jarang membeli beras, bahkan ada yang bertahun-tahun tidak membeli beras […]

  • Mutasi atau Tidak, Tetap Pertimbangkan Manfaat Bagi Masyarakat

    Mutasi atau Tidak, Tetap Pertimbangkan Manfaat Bagi Masyarakat

    • calendar_month Jum, 7 Okt 2022
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Yang pertama kata kuncinya bukan berani atau tidak berani, kata kuncinya adalah perlu atau tidak perlu, bermanfaat atau tidak bermanfaat, tepat atau tidak tepat,” ungkapnya. Pj Gubernur Ridwan mengatakan bahwa mutasi mungkin saja dilakukan jika yang bersangkutan melanggar hukum atau kinerjanya tidak baik. “Saya ingin obyektif, saya tidak ingin memutasi atau tidak mutasi itu karena […]

  • UBB Jalin Kolaborasi Riset Pengembangan Teknologi Hijau dengan Wenzhou Vocational Collage of Science and Technology

    UBB Jalin Kolaborasi Riset Pengembangan Teknologi Hijau dengan Wenzhou Vocational Collage of Science and Technology

    • calendar_month Rab, 5 Nov 2025
    • account_circle Ochin
    • 0Komentar

    “Teknologi ini sangat relevan dikembangkan di wilayah pesisir Indonesia terutama di Provinsi Bangka Belitung” ujar Prof. Ibrahim (27/10/2025). Dalam kunjungan ini, mereka pergi ke berbagai tempat yang ada, seperti ke Seed and Seediing Science, serta Wenzhou Vocational College Of Secience and Technology. Selain melakukan kunjungan, disana mereka juga melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).

expand_less