Modernisasi Pertanian : Teknologi Maju, Petani Kecil Tertinggal
- account_circle Ochin
- calendar_month 8 jam yang lalu

Meski demikian, manfaat modernisasi belum dapat dirasakan secara merata oleh seluruh petani. Salah satu kendala utama adalah tingginya biaya teknologi pertanian modern. Mesin pertanian, perangkat digital, maupun aplikasi berbasis smart farming membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga sulit dijangkau oleh petani kecil yang memiliki keterbatasan ekonomi. Patria (2025) menjelaskan bahwa kondisi ini menyebabkan teknologi modern lebih mudah dimanfaatkan oleh perusahaan besar atau petani bermodal kuat dibandingkan petani kecil di pedesaan. Apabila keadaan tersebut terus berlangsung, modernisasi pertanian justru dapat memperlebar ketimpangan kesejahteraan antarpetani.
Selain persoalan biaya, keterbatasan infrastruktur digital di wilayah pedesaan juga menjadi hambatan yang cukup serius. Akses internet di beberapa daerah masih belum stabil sehingga menyulitkan petani dalam memanfaatkan teknologi digital pertanian. Penelitian Patria (2025) menunjukkan bahwa kualitas jaringan internet yang rendah, keterbatasan perangkat digital, serta minimnya literasi teknologi menjadi kendala utama dalam penerapan pertanian presisi di Indonesia. Hal tersebut memperlihatkan bahwa proses digitalisasi pertanian hingga saat ini masih belum berjalan secara merata.
Perbedaan kemampuan dalam beradaptasi terhadap teknologi juga terlihat antara petani muda dan petani yang lebih tua. Petani muda umumnya lebih cepat memahami penggunaan teknologi digital karena sudah terbiasa menggunakan smartphone dan internet dalam aktivitas sehari-hari. Pemerintah bahkan terus mendorong munculnya petani milenial berbasis smart farming sebagai bagian dari pengembangan pertanian modern. Di sisi lain, sebagian petani tua masih cenderung mempertahankan cara-cara tradisional karena dianggap lebih mudah dipahami dan sudah digunakan sejak lama. Perbedaan tersebut membuat proses transformasi digital di sektor pertanian tidak dapat berjalan dengan kecepatan yang sama pada setiap kelompok petani.
Kondisi ini menunjukkan bahwa modernisasi pertanian di Indonesia masih belum sepenuhnya inklusif. Meskipun perkembangan teknologi pertanian terus mengalami kemajuan, kesiapan petani kecil dalam menghadapi perubahan tersebut belum sepenuhnya diperhatikan. Padahal, petani kecil merupakan kelompok terbesar dalam sektor pertanian Indonesia. Jika mereka terus tertinggal, maka tujuan modernisasi untuk meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan pangan nasional akan sulit tercapai secara menyeluruh.
Menurut saya, modernisasi pertanian tetap menjadi langkah penting yang tidak bisa dihindari. Indonesia membutuhkan inovasi dan perkembangan teknologi agar mampu meningkatkan produksi pangan sekaligus bersaing di era globalisasi. Namun, modernisasi seharusnya tidak hanya berfokus pada kecanggihan teknologi, tetapi juga harus mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi petani di lapangan. Pemerintah perlu memperluas akses internet di pedesaan, meningkatkan pelatihan literasi digital, serta menyediakan bantuan teknologi yang lebih terjangkau bagi petani kecil. Dengan demikian, modernisasi pertanian tidak hanya menjadi simbol kemajuan teknologi, tetapi juga dapat menjadi upaya nyata dalam menciptakan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani Indonesia secara lebih merata.
Sumber Referensi:
1. Patria, I. (2025). Transformasi Pertanian Presisi Berbasis Digital di Indonesia: Tinjauan Sistematis Peluang dan Tantangan. INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi, Vol. 4 No. 6.
- Penulis: Ochin
