Korea Selatan Aktifkan Reaktor Baru di Tengah Reorientasi Kebijakan Energi
- account_circle Ochin
- calendar_month Jum, 2 Jan 2026

CDN.id, PANGKALPINANG — Keputusan Korea Selatan untuk segera mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Saeul Unit 3 menegaskan bahwa energi nuklir tetap memegang peran strategis dalam bauran energi nasional, meskipun arah kebijakan pemerintah menunjukkan penekanan yang semakin kuat pada energi terbarukan.
Persetujuan regulator nuklir terhadap reaktor yang dibangun hampir satu dekade tersebut menjadi sinyal penting bahwa nuklir masih dipandang sebagai instrumen krusial dalam menjaga keandalan pasokan listrik dan ketahanan energi jangka menengah.
Lampu hijau bagi Saeul Unit 3, sebagaimana diumumkan oleh Komisi Keselamatan dan Keamanan Nuklir Korea Selatan, merupakan persetujuan operasional baru pertama dalam hampir dua tahun terakhir.
Bloomberg News dalam edisi terbarunya mengulas bahwa reaktor ini telah dibangun selama hampir satu dekade dan akan memasuki tahap uji coba selama enam bulan sebelum mulai beroperasi secara komersial pada tahun depan.
Proses panjang tersebut mencerminkan standar keselamatan yang ketat sekaligus kompleksitas tata kelola energi nuklir di negara maju.
Menariknya, pengoperasian reaktor baru ini berlangsung di tengah perubahan lanskap kebijakan energi nasional.
Dalam laporan yang sama, Bloomberg menyoroti bahwa langkah ini diambil ketika Presiden Lee Jae Myung semakin menegaskan komitmen terhadap energi terbarukan.
Pemerintah Korea Selatan menargetkan porsi energi terbarukan mencapai setidaknya 30 persen pada 2035, meningkat tajam dari sekitar 9 persen pada tahun sebelumnya, sebagaimana tercantum dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang diserahkan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Namun, pendekatan tersebut tidak sepenuhnya menyingkirkan peran nuklir. Pemerintah justru memilih strategi yang lebih realistis dengan memaksimalkan reaktor yang telah beroperasi atau yang pembangunannya telah dimulai.
Presiden Lee sendiri menyatakan bahwa pembangunan PLTN baru dari nol dapat memakan waktu lebih dari 15 tahun, sehingga sulit dijadikan solusi cepat dalam menjawab tantangan peningkatan kebutuhan listrik dan transisi energi.
- Penulis: Ochin
