Pelanggan yang datang semakin sedikit dan Om Ipong dituntut untuk beradaptasi. Daripada menyerah, ia memilih untuk tetap berjualan di pinggir jalan dengan menggunakan gerobak .
Setiap hari, dari pukul 5 (lima) sore hingga 11 (sebelas) malam, Om Ipong membuka gerobaknya, di tengah hiruk-pikuk lalu lintas yang ramai dan debu-debu jalanan yang berterbangan.
Ironisnya, Om Ipong ini tak hanya harus berjuang melawan ekonomi Kepulauan Bangka Belitung yang melesu, akan tetapi ia juga dihadapkan dengan perbaikan gorong-gorong di depan tempatnya berdagang. Kondisi jalan yang penuh debu, kerap menjadi tantangan besar, tetapi Om Ipong tetap tak gentar.
“Alhamdulillah, kita masih dibantu pelanggan lama,” ujarnya dengan senyum yang tetap merekah, meski dalam hati menyimpan beban yang tidak ringan, saat penulis temui di tempatnya berdagang, Sabtu (7/9/2024)
Dengan omzet yang kini hanya sekitar Rp 150.000 per hari, Om Ipong mencoba berinovasi. Selain menghadirkan menu seafood yang menjadi andalannya, ia juga menyediakan nasi goreng dan kwetiau untuk menambah variasi menu. Ia tahu, untuk bertahan, ia harus fleksibel.
Menu tambahan itu memang tidak serta-merta mendongkrak pendapatan secara signifikan, tetapi cukup untuk sekadar menjaga dapur tetap mengepul.
“Biar sedikit rame, kita juga menyediakan nasi goreng & kwetiau. Alhamdulillah bisa mendongkrak pendapatan, meski tak terlalu banyak,” katanya.