Arsitek di Balik Layar: Selo Pangestu Imawan dan Agency yang Dibangunnya dalam Dua Tahun
- account_circle Vritimes
- calendar_month 7 jam yang lalu

CDN.id, JAKARTA – Ia menghabiskan sepuluh tahun membantu media besar merebut perhatian orang Indonesia. Lalu ia keluar, dan membangun sesuatu yang menjual keahlian itu kepada brand.
Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul ketika sebuah brand tiba-tiba ramai dibicarakan di media sosial Indonesia: siapa yang mengatur ini? Jawabannya jarang sekali punya wajah. Industri yang menggerakkan percakapan publik di negara ini bekerja dengan cara yang membuat pelakunya nyaris tidak pernah terlihat.
Selo Pangestu Imawan adalah salah satu dari mereka. Bedanya, ia tidak keberatan menjelaskan cara kerjanya.
Sebagai Founder dan CEO Posthinks Agency, ia memimpin perusahaan yang dalam waktu kurang dari dua tahun sudah menangani nama-nama seperti Pertamina, Shopee, Telkom, OCBC, Unilever, dan BRI. Angka yang dipegangnya juga tidak kecil: jaringan lebih dari 100 ribu talent dan buzzer, 10 ribu jaringan media, serta 500 lebih content clipper.
Sepuluh tahun di dalam ruang mesin
Untuk memahami bagaimana Posthinks bisa berdiri dengan skala seperti itu sejak awal, jejak kariernya perlu dibaca lebih dulu. Ia melewati hampir seluruh babak perubahan media Indonesia dari dalam: Suara Merdeka Group, Kompas Gramedia, RWE Digital Agency, Okezone, kumparan, hingga Urbanasia Group, tempat ia menjabat Chief Sales & Marketing Officer.
Susunan itu bukan sekadar daftar pindah kerja. Ia berada di media cetak ketika distribusi adalah segalanya, di era portal ketika trafik menjadi mata uang, di ruang redaksi digital-native ketika algoritma mulai menggantikan peran editor, lalu di kursi komersial ketika pertanyaannya berubah menjadi bagaimana semua ini dibayar.
“Saya tidak pernah pindah industri. Yang saya lakukan cuma pindah posisi duduk, sampai akhirnya saya melihat seluruh ruangannya.”
- Penulis: Vritimes
